IN MEMORIAM: PRAMOEDYA ANANTA TOER
Pram akan Dapat Anugerah dari PemerintahM. Rizal Maslan - detikcom
Jakarta, Di dunia internasional, nama Pramoedya Ananta Toer begitu dikagumi atas karya-karya monumentalnya. Sejumlah penghargaan pun mengalir ke dirinya.
Namun, Pram belum pernah mendapatkan penghargaan dari negara tempat dia bernaung, Indonesia. Pemerintah baru menyadari 'kehebatan' Pram di akhir hayatnya. Pemerintah berencana untuk memberikan penghargaan kepada Pram.
"Sekarang karya-karyanya sedang kita pelajari. Nanti ada hal-hal tertentu yang akan kita berikan anugerah," kata Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik di rumah duka Pram, Jl Multikarya II No 26, Utan Kayu, Jakarta Timur, Minggu (30/4/2006).
Menurutnya, sosok budayawan sekelas Pram memang diakui selalu menyuarakan untuk kepentingan rakyat. Namun, Jero menambahkan agar masalah sastra dan budaya itu dibedakan dengan blok politik.
"Pemerintah saat ini juga memikirkan soal rakyat. Jadi biarkan karya budaya dan sastra menjadi karya bangsa yang akan kita warisi kepada generasi berikutnya," kilahnya.
Jero berharap agar semua pihak dapat memberikan persepsi yang baik. Serta memberikan apresiasi terhadap karya-karya sastra dan budaya.
"Generasi yang sekarang pun setelah kepergian pak Pram harus berkarya lebih baik. Suarakan hal-hal yang baik untuk bangsa. Itu yang harus kita lakukan," ujarnya.
Dalam kesempatan ini, Jero tidak lupa menyatakan belasungkawa atas berpulangnya Pram. "Karya-karyanyanya kita apresiasi, kita pelajari, kita ilat, dan kita gabungkan dengan karya satra. Karena budayawan itu memerlukan apresiasi dari kita," jelasnya.
Jakarta, Di dunia internasional, nama Pramoedya Ananta Toer begitu dikagumi atas karya-karya monumentalnya. Sejumlah penghargaan pun mengalir ke dirinya.
Namun, Pram belum pernah mendapatkan penghargaan dari negara tempat dia bernaung, Indonesia. Pemerintah baru menyadari 'kehebatan' Pram di akhir hayatnya. Pemerintah berencana untuk memberikan penghargaan kepada Pram.
"Sekarang karya-karyanya sedang kita pelajari. Nanti ada hal-hal tertentu yang akan kita berikan anugerah," kata Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik di rumah duka Pram, Jl Multikarya II No 26, Utan Kayu, Jakarta Timur, Minggu (30/4/2006).
Menurutnya, sosok budayawan sekelas Pram memang diakui selalu menyuarakan untuk kepentingan rakyat. Namun, Jero menambahkan agar masalah sastra dan budaya itu dibedakan dengan blok politik.
"Pemerintah saat ini juga memikirkan soal rakyat. Jadi biarkan karya budaya dan sastra menjadi karya bangsa yang akan kita warisi kepada generasi berikutnya," kilahnya.
Jero berharap agar semua pihak dapat memberikan persepsi yang baik. Serta memberikan apresiasi terhadap karya-karya sastra dan budaya.
"Generasi yang sekarang pun setelah kepergian pak Pram harus berkarya lebih baik. Suarakan hal-hal yang baik untuk bangsa. Itu yang harus kita lakukan," ujarnya.
Dalam kesempatan ini, Jero tidak lupa menyatakan belasungkawa atas berpulangnya Pram. "Karya-karyanyanya kita apresiasi, kita pelajari, kita ilat, dan kita gabungkan dengan karya satra. Karena budayawan itu memerlukan apresiasi dari kita," jelasnya.
30/04/2006 14:24
Pramoedya Dilepas dengan Lagu Komunis InternasionaleM. Rizal Maslan - detikcom
Jakarta, Pramoedya Ananta Toer dilepas ke TPU Karet Bivak, Pejompongan, Jakarta, lebih cepat dari jadwal. Lagu komunis internasional, Internasionale, yang telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, mengiringi kepergian Pram.
Menurut rencana, Pram dimakamkan ke TPU Karet Bivak setelah salat ashar. Namun keluarga memutuskan untuk memberangkatkan Pram pada pukul 13.50 WIB. Ratusan pelayat tampak memenuhi rumah dan pekarangan Pram di Jalan Multikarya II No 26, Utan Kayu, Jakarta Timur, Minggu (30/4/2006).
Pelayat yang hadir antara lain Sitor Situmorang, Erry Riyana Hardjapamekas, Nurul Arifin dan suami, Usman Hamid, Putu Wijaya, Goenawan Moehammad dan Gus Solah. Hadir juga Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik. Teman-teman Pram yang pernah ditahan di Pulau Buru juga hadir. Temasuk para anak muda fans Pram.
Jenazah dimandikan pukul 12.30 WIB, lalu disalatkan. Setelah itu, dibawa keluar rumah untuk dimasukkan ke ambulans yang membawa Pram ke TPU Karet Bivak. Nah, ketika prosesi ini terjadi, sebagian pelayat lamat-lamat mengumandangkan sebuah lagu berbahasa Indonesia. Kata seorang di antara mereka, judul lagu itu adalah Internasionale.
Internasionale digubah oleh Eughene Pottier, penyair proletar anggota Komune Paris, tahun 1871. Ini merupakan lagu komunis internasional. Internasionale diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dari bahasa Belanda oleh Ki Hadjar Dewantoro dan dipopulerkan PKI selama tahun 1951-1965. Terjemahan syair-syair Internasionale itu oleh komunis internasional dianggap telah menghilangkan roh proletariat, sehingga CC PKI mendapat celaan keras.
Pada 19 Desember 1948, Amir Sjarifuddin beserta 10 tokoh clash Madiun 1948 juga menyanyikan Indonesia Raya dan Internasionale sesaat sebelum dieksekusi.
Di masa mudanya, Pram adalah aktivis Lekra -- organisasi kesenian di bawah PKI.
Jakarta, Pramoedya Ananta Toer dilepas ke TPU Karet Bivak, Pejompongan, Jakarta, lebih cepat dari jadwal. Lagu komunis internasional, Internasionale, yang telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, mengiringi kepergian Pram.
Menurut rencana, Pram dimakamkan ke TPU Karet Bivak setelah salat ashar. Namun keluarga memutuskan untuk memberangkatkan Pram pada pukul 13.50 WIB. Ratusan pelayat tampak memenuhi rumah dan pekarangan Pram di Jalan Multikarya II No 26, Utan Kayu, Jakarta Timur, Minggu (30/4/2006).
Pelayat yang hadir antara lain Sitor Situmorang, Erry Riyana Hardjapamekas, Nurul Arifin dan suami, Usman Hamid, Putu Wijaya, Goenawan Moehammad dan Gus Solah. Hadir juga Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik. Teman-teman Pram yang pernah ditahan di Pulau Buru juga hadir. Temasuk para anak muda fans Pram.
Jenazah dimandikan pukul 12.30 WIB, lalu disalatkan. Setelah itu, dibawa keluar rumah untuk dimasukkan ke ambulans yang membawa Pram ke TPU Karet Bivak. Nah, ketika prosesi ini terjadi, sebagian pelayat lamat-lamat mengumandangkan sebuah lagu berbahasa Indonesia. Kata seorang di antara mereka, judul lagu itu adalah Internasionale.
Internasionale digubah oleh Eughene Pottier, penyair proletar anggota Komune Paris, tahun 1871. Ini merupakan lagu komunis internasional. Internasionale diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dari bahasa Belanda oleh Ki Hadjar Dewantoro dan dipopulerkan PKI selama tahun 1951-1965. Terjemahan syair-syair Internasionale itu oleh komunis internasional dianggap telah menghilangkan roh proletariat, sehingga CC PKI mendapat celaan keras.
Pada 19 Desember 1948, Amir Sjarifuddin beserta 10 tokoh clash Madiun 1948 juga menyanyikan Indonesia Raya dan Internasionale sesaat sebelum dieksekusi.
Di masa mudanya, Pram adalah aktivis Lekra -- organisasi kesenian di bawah PKI.
30/04/2006 12:20
Profil SingkatPram, Rokok Hingga PlayboyNurul Hidayati - detikcom
Jakarta, Rokok terbukti membuat orang mati muda. Tapi tidak dengan Pramoedya Ananta Toer. Sastrawan kelas dunia milik Indonesia ini justru panjang umur gara-gara rokok.
Pram mulai mengisap sigaret di usia 15 tahun. Setiap hari, dia semakin kecanduan merokok. Akhirnya, saat usia tua menghampirinya, Pram masih kuat menghabiskan 32 batang per hari!
Bahkan saat kritis sebelum ajal menjemputnya hari ini, Minggu (30/6/2006), Pram masih sempat meminta rokok kepada kerabatnya.
Tapi, Pram tentunya tahu bahwa rokok tidak baik untuk kesehatan. Karena itu dia mengimbanginya dengan olah pernafasan sebelum tidur. "Saya juga selalu mencoba tersenyum," beber Pram dalam sebuah diskusi di Taman Ismail Marzuki (TIM) dalam rangka memperingati ulang tahunnya ke-81 yang jatuh 6 Februari 2006 silam.
Bersama rokok pula, Pram melahirkan karya-karya monumental. Sedari muda, dia produktif menelorkan karya-karya yang banyak dipuji.
Jakarta, Rokok terbukti membuat orang mati muda. Tapi tidak dengan Pramoedya Ananta Toer. Sastrawan kelas dunia milik Indonesia ini justru panjang umur gara-gara rokok.
Pram mulai mengisap sigaret di usia 15 tahun. Setiap hari, dia semakin kecanduan merokok. Akhirnya, saat usia tua menghampirinya, Pram masih kuat menghabiskan 32 batang per hari!
Bahkan saat kritis sebelum ajal menjemputnya hari ini, Minggu (30/6/2006), Pram masih sempat meminta rokok kepada kerabatnya.
Tapi, Pram tentunya tahu bahwa rokok tidak baik untuk kesehatan. Karena itu dia mengimbanginya dengan olah pernafasan sebelum tidur. "Saya juga selalu mencoba tersenyum," beber Pram dalam sebuah diskusi di Taman Ismail Marzuki (TIM) dalam rangka memperingati ulang tahunnya ke-81 yang jatuh 6 Februari 2006 silam.
Bersama rokok pula, Pram melahirkan karya-karya monumental. Sedari muda, dia produktif menelorkan karya-karya yang banyak dipuji.
30/04/2006 11:44
Erry Riyana: Pram Gemar Bakar Sampah Sambil MerokokM. Rizal Maslan - detikcom
Jakarta, Sejumlah tetangga dan kerabat sastrawan Pramoedya Ananta Toer mulai berdatangan di rumah duka. Artis hingga tokoh politik juga memenuhi pekarangan kediaman tokoh yang sempat menghiasi edisi perdana Playboy Indonesia ini.
Tokoh yang sudah hadir antara lain penyair Sitor Situmorang, pasangan artis Nurul Arifin dan Mayong Suryo Laksono, aktivis Yenny Rosa Damayanti, Koordinator Kontras Usman Hamid, dan Wakil Ketua KPK Erry Ryana Hardjapamekas.
Erry yang juga tetangga Pram merasa terkesan dengan kebiasaan Pram, yaitu membakar sampah sambil merokok.
"Sebagai tetangga, kebiasaan dia itu selalu membakar sampah dengan bertelanjang dada, dan merokok. Sampah siapa saja selalu dikumpulkan, lalu dibakar. Itu yang saya ingat betul," ujar Erry di kediaman Pram, Jl Multikarya II No 26, Utan Kayu, Jakarta Timur, Minggu (30/4/2006).
Erry ingat akan keinganan Pram, yakni memperoleh hak-haknya kembali sama ketika sebelum Pram keluar masuk penjara. Menurutnya, pemerintah harus memulihkan hak-hak Pram.
"Saya kira pemerintah harus memperhatikan ini. Orang boleh menjadi tahanan politik melalui pengadilan. Yang kita pertanyakan pengadilan itu pengadilan apa. Tapi dosa politik tidak menyebabkan hak sipilnya tercabut. Hak-hak dia harus dipulihkan oleh pemerintah dan bangsa ini jika ingin berkonsiliasi," jelasnya.
Karangan bunga tanda berduka cita juga sudah mulai tampak. Antara lain berasal dari Pusat Dokumentasi Sejarah HB Jassin.
Pram meninggal sekitar pukul 08.55 WIB (sebelumnya tertulis 08.30 WIB), Minggu (30/5/2006) pada usia 81 tahun. Sebelumnya, Pram sempat tergolek tak sadar dalam perawatan di RS St Carolus, Salemba, Jakarta Pusat. Namun meski kritis, dia akhirnya minta pulang ke rumahnya sendiri.
Menurut rencana, Pram akan dikebumikan di TPU Karet, setelah salat ashar.
Jakarta, Sejumlah tetangga dan kerabat sastrawan Pramoedya Ananta Toer mulai berdatangan di rumah duka. Artis hingga tokoh politik juga memenuhi pekarangan kediaman tokoh yang sempat menghiasi edisi perdana Playboy Indonesia ini.
Tokoh yang sudah hadir antara lain penyair Sitor Situmorang, pasangan artis Nurul Arifin dan Mayong Suryo Laksono, aktivis Yenny Rosa Damayanti, Koordinator Kontras Usman Hamid, dan Wakil Ketua KPK Erry Ryana Hardjapamekas.
Erry yang juga tetangga Pram merasa terkesan dengan kebiasaan Pram, yaitu membakar sampah sambil merokok.
"Sebagai tetangga, kebiasaan dia itu selalu membakar sampah dengan bertelanjang dada, dan merokok. Sampah siapa saja selalu dikumpulkan, lalu dibakar. Itu yang saya ingat betul," ujar Erry di kediaman Pram, Jl Multikarya II No 26, Utan Kayu, Jakarta Timur, Minggu (30/4/2006).
Erry ingat akan keinganan Pram, yakni memperoleh hak-haknya kembali sama ketika sebelum Pram keluar masuk penjara. Menurutnya, pemerintah harus memulihkan hak-hak Pram.
"Saya kira pemerintah harus memperhatikan ini. Orang boleh menjadi tahanan politik melalui pengadilan. Yang kita pertanyakan pengadilan itu pengadilan apa. Tapi dosa politik tidak menyebabkan hak sipilnya tercabut. Hak-hak dia harus dipulihkan oleh pemerintah dan bangsa ini jika ingin berkonsiliasi," jelasnya.
Karangan bunga tanda berduka cita juga sudah mulai tampak. Antara lain berasal dari Pusat Dokumentasi Sejarah HB Jassin.
Pram meninggal sekitar pukul 08.55 WIB (sebelumnya tertulis 08.30 WIB), Minggu (30/5/2006) pada usia 81 tahun. Sebelumnya, Pram sempat tergolek tak sadar dalam perawatan di RS St Carolus, Salemba, Jakarta Pusat. Namun meski kritis, dia akhirnya minta pulang ke rumahnya sendiri.
Menurut rencana, Pram akan dikebumikan di TPU Karet, setelah salat ashar.
30/04/2006 10:35
Pramoedya Ananta Toer Tutup UsiaM. Rizal Maslan - detikcom
Jakarta, Setelah berjibaku dengan sakit di usia tuanya, sastrawan Pramoedya Ananta Toer tutup usia, Minggu (30/4/2006) sekitar pukul 08.30 WIB. Pria yang pernah dinobatkan sebagai orang paling berpengaruh versi Majalah Time ini meninggal pada usia 81 tahun.
Saat ini jenazah disemayamkan di kediamannya, Jalan Multikarya II No 26, Utan Kayu, Jakarta Timur. Sebelumnya, Pram tergolek tak sadar dalam perawatan di RS St Carolus, Salemba, Jakarta Pusat, sejak Kamis 27 April. Namun meski kritis, dia akhirnya minta pulang ke rumahnya sendiri.
Sejak semalam, banyak tamu bertandang menjenguk Pram, utamanya dari komunitas penggemar Pram. Wartawan juga banyak yang menyanggong. Pram dijadwalkan dimakamkan hari ini setelah salat ashar di TPU Karet.
Pram lahir pada 6 Februari 1925. Karena karya-karya monumentalnya, Pram sejak 1981 menjadi kandidat penerima Nobel dalam bidang sastra. Filipina menghargai kehebatan Pram dengan anugerah Magsaysay.
Sejak muda, Pram akrab dengan penjara. Dia pernah ditahan pada tahun 1947-1949. Tahun 1965 hingga 1979, dia pun kembali ditahan di beberapa tempat seperti di penjara Jakarta, Tangerang, Nusakambangan, Magelang, Semarang dan Pulau Buru.
Seiring dengan runtuhnya Orba, buku-buku tokoh Lekra yang pernah dilarang beredar ini diterbitkan ulang dan cukup laris di pasaran. Karya-karya Pram yang terkenal antara lain tetralogi Bumi Manusia (diterjemahkan ke 33 bahasa), Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca, dan Bukan Pasar Malam
Jakarta, Setelah berjibaku dengan sakit di usia tuanya, sastrawan Pramoedya Ananta Toer tutup usia, Minggu (30/4/2006) sekitar pukul 08.30 WIB. Pria yang pernah dinobatkan sebagai orang paling berpengaruh versi Majalah Time ini meninggal pada usia 81 tahun.
Saat ini jenazah disemayamkan di kediamannya, Jalan Multikarya II No 26, Utan Kayu, Jakarta Timur. Sebelumnya, Pram tergolek tak sadar dalam perawatan di RS St Carolus, Salemba, Jakarta Pusat, sejak Kamis 27 April. Namun meski kritis, dia akhirnya minta pulang ke rumahnya sendiri.
Sejak semalam, banyak tamu bertandang menjenguk Pram, utamanya dari komunitas penggemar Pram. Wartawan juga banyak yang menyanggong. Pram dijadwalkan dimakamkan hari ini setelah salat ashar di TPU Karet.
Pram lahir pada 6 Februari 1925. Karena karya-karya monumentalnya, Pram sejak 1981 menjadi kandidat penerima Nobel dalam bidang sastra. Filipina menghargai kehebatan Pram dengan anugerah Magsaysay.
Sejak muda, Pram akrab dengan penjara. Dia pernah ditahan pada tahun 1947-1949. Tahun 1965 hingga 1979, dia pun kembali ditahan di beberapa tempat seperti di penjara Jakarta, Tangerang, Nusakambangan, Magelang, Semarang dan Pulau Buru.
Seiring dengan runtuhnya Orba, buku-buku tokoh Lekra yang pernah dilarang beredar ini diterbitkan ulang dan cukup laris di pasaran. Karya-karya Pram yang terkenal antara lain tetralogi Bumi Manusia (diterjemahkan ke 33 bahasa), Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca, dan Bukan Pasar Malam


0 Comments:
Post a Comment
Links to this post:
Create a Link
<< Home